DIRJEN BINALATTAS BAMBANG SATRIO LELONO :JEPANG BUTUH PEKERJA ASAL INDONESIA

DIRJEN BINALATTAS BAMBANG SATRIO LELONO :JEPANG BUTUH PEKERJA ASAL INDONESIA
Perwakilan kementerian jepang ikada

Mansarinews.id –Jakarta,

Memasuki tahun terakhir ini Pemerintah focus dalampeningkatan kualitas sumber daya manusia dengan demikian pemerintah lebih percaya diri bias membantu pemerintah jepeng.Demikian diutarakan Dirjen Binalattas, Bambang Satrio Lelono ketika menerima perwakilan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Perindustrian (METI) Jepang, Yoko Ikeda, di ruang kerjanya belum lama ini.

Dalam pertemuan itu dibicarakan kebutuhan tenaga kerja asing yang sangat besar di Jepang. Dalam hal ini Indonesia siap memenuhi kebutuhan tersebut dengan menempatkan tenaga kerjanya ke negara Sakura itu.

“Saat ini Pemerintah Indonesia memang tengah fokus terhadap program peningkatan kualitas SDM melalui peningkatan kompetensi di Balai Latihan Kerja (BLK). Saya yakin dan optimis lulusan BLK mampu bersaing di dunia industri, baik di dalam maupun di luar negeri, termasuk di Jepang,” kata Satrio, Senin (18/3)

Turut hadir pada pertemuan ini perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Taro Araki, Japan External Trade Organization (JETRO) Hiroki Yoshida, dan Satoshi Miyajima serta Imron Munfaat, selaku Presiden Direktur dan Direktur PT. OS Selnajaya Indonesia.

Untuk menyesuaikan kebutuhan sektor indistri di Jepang, kata Satrio pihaknya akan menyesuaikan sistem pelatihan di BLK dengan kebutuhan sektor industri, baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia.

Guna memuluskan langkah pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Jepang, Satrio meminta Pemerintah Jepang segera merumuskan standar kebutuhan industri di negaranya agar Indonesia bisa menyesuaikan kurikulum pelatihan di BLK sesuai dengan standar mereka.

“Pemerintah Indonesia akan mengadopsi standar tersebut sebagai standar kompetensi kerja (SKK) khusus yang akan menjadi standar dan pedoman dalam proses pelatihan maupun uji kompetansi bagi calon tenaga kerja yang nantinya akan bekerja di Jepang,” ungkap Satrio.

Sementara itu, Yoko Ikeda menjelaskan maksud pertemuan ini erat terkait dengan kebutuhan Jepang akan tenaga kerja asing khususnya dari Indonesia. Terhitung mulai 1 April 2019, akan diberlakuan visa kerja baru untuk tenaga kerja asing pada 14 sektor bidang pekerjaan.

“Selama ini Jepang sangat terbantu dengan program pemagangan, termasuk peserta pemagangan dari Indonesia. Dengan diberlakukannya visa kerja baru tersebut peserta magang yang telah menyelesaikan program pemagangan berkesempatan bekerja di Jepang dengan visa kerja keterampilan khusus atau dalam bahasa Jepang disebut tokuteiginou,” kata Ikeda.

Hanya saja, lanjut Ikeda, jika hanya mengandalkan peserta magang, tentu tidak bisa mencukupi kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Dalam skema visa kerja tokuteiginou tersebut, Ikeda berharap peserta magang yang telah pulang ke Indonesia bisa kembali bekerja di Jepang.

“Selain itu, ada juga jalur melalui pemegang visa pendidikan (ryugakusei),atau tenaga kerja baru yang belum pernah bekerja di Jepang, namun mempunyai kemampuan bahasa dan tingkat keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jepang,” ucap Ikeda. (R2)

 

Share this post

Post Comment