PENGUSAHA HOTEL DI BOGOR MENGELUH HARGA TIKET PESAWAT TINGGI.

PENGUSAHA HOTEL DI BOGOR MENGELUH HARGA TIKET PESAWAT TINGGI.
salah satu hotel terkemuka dibogor

Mansarinews.id –Bogor,

Sejumlah pengusaha hotel di Bogor mengeluh karena jumlah tamunya berkurang secara signifikan.  Hal itu diperkirakan akibat melonjaknya harga tiket pesawat terbang belakangan ini yang berdampak pada menurunnya kunjungan wisata ke Bogor.

Meski demikian, tampaknya tak semua penginapan terkena imbas kenaikan harga tiket pesawat itu.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  Kota Bogor Yuno Abeta Lahay mengatakan, penurunan okupansi atau tingkat kunjungan hotel sudah dirasakan dampaknya di awal bulan ini. Jumlahnya pun cukup signifikan dan membuat pemilik hotel menjerit.

Sementara Ketua PHRI Kabupaten Bogor  Budi Sulistyo mengaku hotel-hotel di Kabupaten belum merasakan efeknya. Hal itu karena mayoritas hotel-hotel di Kabupaten berbentuk mess. Jadi kalau pun untuk kunjungan wisatawan tidak begitu diharapkan di Bogor.

“Justru yang paling berdampak adalah daerah wisata yang akomodasi utamanya lewat udara. Seperti Bali dan Yogyakarta,” ujarnya.

Melanjutkan keterangannya Ketua PHRI Kota Bogor Yuno mengatakan, dia  belum bisa menghitung berapa persen penurunan tingkat kunjungan hotel di Bogor. Hal itu perlu dibandingkan  dengan data okupansi hotel pada bulan yang sama di tahun sebelumnya. Tapi secara nasional, penurunan okupansi hotel di bulan Januari mencapai 25 persen.

“Jika dibandingkan dengan Januari tahun lalu saya kira berbeda jauh,” ucapnya.

Yuno juga merasa heran karena harga tiket pesawat domestik lebih mahal dibanding tiket di luar negeri. Sebelum kenaikan pada  awal Januari 2019, tiket Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) ke Medan hanya Rp800 ribu hingga Rp900 ribu untuk kelas ekonomi pada Desember 2018. Namun, hingga tanggal 13 Februari kemarin, masih di angka Rp1,1 juta-1,5 juta. Harga tiket ini bervariasi, bergantung jam dan hari keberangkatan. Rata-rata kenaikannya bisa lebih dari 30 persen atau malah dua kali lipat.

“Makanya untuk menyiasati kenaikan harga tiket pesawat, kami terus menggencarkan promosi wisata,” katanya.

Mahalnya harga tiket pesawat, menurut dia, salah satu peyebabnya  harga avtur. Harga avtur di dalam negeri terpaut 30 persen dibanding negara lain. Selama ini avtur dimonopoli oleh BUMN, yakni PT Pertamina (persero).

“Karena monopoli, harganya jadi tidak kompetitif. Bandingkan harga avtur di kita dengan negara yang lain,” katanya..

Tak hanya hotel dan Biro Perjalanan yang mengeluh, mahalnya tiket pesawat sejak awal Januari, juga membuat sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat tidak ada penumpang. Misalnya Lion Air yang membatalkan 138 penerbangan, Wings Air 69 penerbangan, Batik Air 38 penerbangan, dan Malindo Air satu penerbangan.

Kemudian maskapai Garuda Indonesia 129 pembatalan penerbangan, dan Citilink  56 penerbangan.Selanjutnya ada maskapai luar negeri Scoot yang mencatat ada dua penerbangan dibatalkan. Pembatalan  penerbangan yang paling banyak terjadi di rute Pekanbaru-Jakarta yakni sebanyak 245 flight. Lalu ke Batam ada 94, Jambi sebanyak 31, Medan 21 penerbangan, Padang 14 penerbangan, serta rute tujuan Dumai dan Palembang masing-masing ada 8 penerbangan batal.

Selain okupansi hotel yang turun dan pembatalan penerbangan, dampak kenaikan harga tiket pesawat juga dirasakan angkutan Damri jurusan Bogor-Bandara Soetta. Penurunan jumlah penumpang juga signifikan, yakni di angka 40-50 persen.

“Penurunan ini mulai kami rasakan di awal Februari,” ujar Koordinator Pool Damri Bogor Handoko.

Sebelum harga tiket pesawat naik, setiap bus Damri yang berangkat dari Bogor ke Jakarta dan sebaliknya,  biasa mengangkut 20-30 penumpang sekali jalan. Jumlah itu turun menjadi 5-10 penumpang. Akibatnya penurunan itu berdampak kepada pemasukan.

“Sebab gaji kru kami diperoleh dari tujuh persen pendapatan bus Damri perhari,” keluhnya. (Marihot Pakpahan)

 

 

 

Share this post

Post Comment